Menempatkan Usaha dan Hasil pada Posisi yang Tepat

Menempatkan Usaha dan Hasil pada Posisi yang Tepat

KITABACA.ID - Sebagian umat Islam menempatkan kerja keras dan kesuksesan dalam hubungan sebab-akibat. Kesuksesan seseorang dilihat dari kerja keras yang dilakukan. Banyak dan sedikitnya rizqi seseorang tergantung seberapa besar kerja kerasnya. Hubungan ini juga diterapkan pada hal yang bersifat religius. Banyaknya ibadah merupakan sebab dari kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. dan kemudian bisa masuk surga. Sebaliknya, banyaknya maksiat menjadi penyebab seorang hamba jauh dari ridho Allah SWT akan masuk neraka. Kedua konteks urusan dunia dan akhirat tersebut sama-sama menempatkan kerja/amal seseorang sebagai penyebab dia mendapatkan kesuksesan. Benarkah demikian?

Ibn Athaillah As Sakandary, seorang ulama` sufi ternama dari thoriqoh Syadziliyah, mengemukakan :

من علامات الإعتماد على العلم نقصان الرجاء عند وجود الزلل

Sebagian tanda seseorang mengandalkan amal adalah berkurangnya harapan saat terjatuh.(Iiqaadzul Himam, hal. 25)

Jika seorang hamba merasa dekat dengan Allah SWT karena sudah melakukan banyak ibadah dan merasa jauh dari Allah SWT. karena melakukan dosa berarti dia mengandalkan amalnya untuk menuju Allah SWT.

Hendaknya, amal dan ridho Allah ditempatkan pada posisi masing-masing. Beramal adalah tugas manusia sedangkan ridho Allah SWT beserta rahmat-Nya pada manusia tergantung kehendakNya. Kewajiban manusia adalah beramal baik dan menjauhi kemunkaran tanpa harus dihubung-hubungkan dengan imbalan-imbalan ataupun ridho Allah SWT.

Penempatan pada porsi masing-masing tersebut juga berlaku pada kerja keras dan rizqi atau kesuksesan. Kerja keras adalah tugas manusia sementara rizqi dan kesuksesan duniawi adalah urusan Allah SWT. Tugas manusia hanya berbuat maksimal sesuai peran yang diterima, entah itu sebagai guru ngaji, kyai, dosen, dokter, tukang becak, tukang bangunan, karyawan pabrik, petani, dan lain sebagainya. Adapun rizqi yang datang bukan akibat dari kerja yang dijalani. Jika kerja menjadi patokan untuk mendapat rizqi maka bayi yang baru lahir dan anak-anak kecil tidak akan mendapat rizqi karena mereka tidak bekerja.

Jadi, seorang hamba bertugas untuk bekerja dan beramal semaksimal mungkin sesuai perannya dengan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT.

Diposting Oleh : Ihya Ulumuddin
Sumber Gambar : https://dictio.id
Sumber Tulisan : https://kitabaca.id