Sholat <i>Ied</i> Menurut 4 Madzhab

Sholat Ied Menurut 4 Madzhab

KITABACA.ID - Shalat ied al-fitri dan ied al-adha atau dikenal dengan istilah “ie-dain” jika di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan shalat hari raya idul fitri dan shalat hari raya idul adha. Shalat ini merupakan ibadah rububiyah yang dikerjakan satu kali dalam setahun, oleh sebab itu, ibadah ini sangat dinanti nantikan oleh kaum muslimin dan muslimat, makanya tidak heran jika shalat hari raya ini cenderung lebih banyak jamaahnya dibanding dengan shalat jumat seperti biasanya. Mengapa demikian? Karena ibadah shalat ini setidaknya dipengaruhi oleh intervensi dari dua motivasi intrinsik dan extrinsik. Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang mencul dari dalam diri seseorang berupa rasa senang dan bahagia yang timbul akibat dari berbagai upaya yang dilakukan sebelumnya, disamping itu juga terdapat motivasi extrinsik, yaitu motivasi yang timbul dari luar diri seseorang seperti dorongan situasi untuk saling bertemu memeriahkan suasana haru dan baru diantara keramaian sanak saudara tetangga seiman dan seagama, tetapi dalam praktiknya shalat idul-fitri cenderung lebih meriah dan ramai dibanding shalat idul-adha karena kaum muslimin dan muslimat benar benar merasa mendapatkan kebahagian dan kemengan setelah sebulan lamanya melaksanakan puasa dan puncak kebahagiannya mereka curahkan saat prosesi shalat hari raya idul-fitri.

Lalu bagaimana pandangan dari empat (4) madzhab di Indonesia yang telah diperjuangkan oleh kaum nahdiyyin  melalui komite hijaz yang diutus NU untuk menyampaikan aspirasinya agar memperkenankan faham 4 madzhab berlaku di Indonesia, seperti imam Abu Hanifah, iman Malik, imam Syafi’i, dan imam Ahmad bin Hambal, walaupun pada praktiknya mayoritas bermadzhab syafi’i. Berikut pandangan dari empat madzhab tentang shalat ied.

Pertama; Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat ied hukumnya wajib, sama dengan shalat jumat, wajib berjamaah tetapi jumlah jamaah tidak menjadi syarat, dengan kaifiyah takbir shalat pada rakaat pertama sebanyak tiga (3) kali takbir,  pada rakaat kedua takbirnya sebanyak tiga (3) kali juga, hukum takbir tersebut termasuk sunnah hai’ah, artinya ketika sang imam lupa maka tidak perlu sujud sahwi yaitu sujud yang dilakukan karena ada sunnah yang terlupakan.

Kedua; Imam Malik menyatakan, bahwa shalat ied hukumnya sunnah ghairu muakkadah, disunnahkan berjamaah bagi selain orang yang sedang haji, dengan takbir enam (6) kali pada rakaat pertama dan takbir lima (5) kali pada rakaat kedua dan hukum takbirnya termasuk sunnah ab’ad artinya jika terlupakan maka harus sujud sahwi.

Ketiga; Imam Syafi’i berpendapat sedikit beda dan sama dengan imam Malik, bahwa shalat ied itu  سنة عير مؤكدة dengan tujuh (7) takbir pada rakaat pertama dan lima (5) takbir pada rakaat yang kedua, pendapat ini yang paling banyak di ikuti di Indonesia, menurutnya takbir tersebut hukumnya hanya sunnah hai’ah jadi apabila terlupakan maka tidak perlu diganti dengan sujud sahwi.

Keempat; Dalam pandangan Imam Ahmad bin Hambal atau yang lebih dikenal dengan sebutan imam Hambali, beliau berpendapat bahwa shalat ied itu hukumya fardhu kifayah bagi orang yang wajib shalat jumat, jumlah takbir menurutnya di rakaat pertama takbirnya sebanyak enam (6) kali dan di rakaat kedua takbirnya sebanyak lima (5) kali, beliau sependapat dengan imam Malik dalam hal jumlah takbir, tetapi beliau beda pendapat tentang status hukum takbir, menurutnya hukum takbir shalat ied itu termasuk sunnah hai’ah berarti tidak perlu diganti sujud sahwi jika tertinggal.

Dari sekian madzhab ini yang sering kita jumpai di Indonesia adalah penganut madzhab imam Syafi’i yang dalam pandangan orang orang Indonesia beliau mungkin dianggap yang paling moderat dan lebih pada menjaga tradisi lama dan menyesuaikan dengan perkebangan yang lebih baik bagi masyarakat.

Diposting Oleh : Ihya Ulumuddin
Sumber Gambar : https://geotimes.co.id/
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id