Tiga Syarat Guru Spiritual

Tiga Syarat Guru Spiritual

KITABACA.ID - Belajar atau menuntut ilmu dilakukan sampai ajal menjemput. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “tuntutlah ilmu sejak dari dalam buaian sampai ke liang lahat”.

Dalam mencari ilmu perlu ada guru pembimbing. Menuntut ilmu dhahir guru pembimbingnya bisa siapa saja dengan catatan ilmunya bisa dipertanggung jawabkan. Ini juga berlaku dalam mencari ilmu syari’at seperti fiqih, tajwid, tafsir dan lain sebagainya. Artinya boleh mencari guru sebanyak-banyaknya.

Cara tersebut tidak berlaku dalam mencari ilmu spiritiual. Seorang penempuh jalan spiritual(Salik) tidak boleh mencari guru sebanyak-banyaknya dalam perjalanannya menuju Allah SWT. Begitu juga, seorang yang tahu masalah agama tidak serta merta bisa menjadi guru(mursyid) dari seorang salik. Setidaknya ada 3 syarat yang harus dipenuhi oleh seorang yang hendak menjadi mursyid. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Hagiografi(Manaqib) An-Nur Al-Burhany pernah mengatakan

لا ينبغى لفقير أن يتصدّى و يتصدّر لإرشاد الناس إلا أن أعطاه الله علم العلماء و سياسة الملوك و حكمة الحكمآء

Seorang hamba hendaklah tidak bersedia bertindak sebagai seorang mursyid yang memberikan bimbingan kepada manusia kecuali ia telah mendapat anugerah dari Allah SWT berupa : 1. ilmu ulama’, 2. strategi seorang raja, dan 3. hikmah yang dimiliki orang-orang yang bijaksana. 

Kemudian, apa yang dimaksud Hikmah? Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Muroh Labid, juz 1 halaman 100, menyebutkan :


فالحكمة هي العلم النافع وفعل الصواب. فقيل في حد الحكمة: هي التخلق بأخلاق الله بقدر الطاقة البشرية،كقوله صلّى الله عليه وسلّم: «تخلّقوا بأخلاق الله تعالى»

Hikmah adalah ilmu yang bermanfaat, tingkah laku yang benar. Dikatakan juga bahwa hikmah adalah berakhlaq dengan Akhlaq Allah SWT sesuai batas kemampuan manusia sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Berakhlaqlah seperti akhlaq Allah Ta’ala”

 

والله أعلم بالصواب

Diposting Oleh : Ihya Ulumuddin
Sumber Gambar : http://risallah-hati.blogspot.com/
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id