Shalawat Sebagai Tradisi atau Instruksi?

Shalawat Sebagai Tradisi atau Instruksi?

KITABACA.ID - Ada beberapa amalan yang sering dilakukan oleh kaum muslimin dan muslimat  hingga amalan itu dianggap sebagai identitas kultural sebuah organisasi keislaman yang harus dilestarikan, terutama bagi kaum nahdiyyin. Salah satu amalan yang paling menjamur adalah amalan bacaan shalawat,  maka bermunculanlah jamiyah shalawat diberbagai daerah. Apa shalawat itu? Bagaimana pandangan ulama? Dan Bagaimana pandangan masyarakat?

Secara harfiah  Shalawat merupakan bentuk jamak yang musytaq dari fi’il madhi shalla atau dari mufrad shalatun yang bisa diartikan rahmat, doa, berkah, dan ibadah. Dalam pengertian luas shalawat merupakan bentuk ibadah qauliyah yang dilakukan diberbagai tempat dengan derajat yang berbeda, misalnya dalam shalat ada bacaan shalawat sebagai rukun shalat, dalam khutbah jumat ada bacaan shalawat sebagai rukun khutbah, dalam berdoa ada bacaan shalawat sebagai wasilah diterimanya doa, dan hampir semua aktifitas keagamaan terdapat bacaan shalawat bahkan dalam tradisipun juga terdapat bacaan shalawat seperti acara maulid nabi, acara walimatul arus, dan yang paling lumrah pada setiap akhir acara kenduren biasanya ditutup dengan bacaan shalawat, yang lebih parah adalah adanya anggapan shalawat itu hanya dijadikan alat untuk mengusir jamiyah saat usai acara, padahal esensinya adalah supaya lebih berkah majlis tersebut sebelum ditinggalkan  maka dibacakan shalawat terlebih dulu. Hakikatnya, bacaan shalawat itu dimotivasi oleh  Surah al-Ahzâb ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".

Ayat diatas jika difahami secara tekstual bisa menimbulkan pertanyaan mengapa Allah bershalawat untuk nabi? Bukankah Allah yang memberikan rahmat? Bukankah Allah yang mengatur segalanya? Dst....Maka supaya tidak menimbulkan nigatif thingking pada setiap pembaca perlu disimak uraian ringkas imam Nawawi dalam kitab tafsirnya menyatakan lebih elok dan mudah difahami jika kalimat wamalaaikatahu dibaca wamalaaikatuhu (dijadikan mubtada’) dan khobarnya inna dibuang dengan takdiran yarhamu annabi, sehingga jika diterjamahkan maka menjadi....."Sesungguhnya Allah menyanyangi nabi dan para malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi..dst.....

Akan tetapi teks al-Quran yang asli diatas sebenarnya memiliki pengertian bahwa maksud Allah bershalawat kepada nabi  adalah  memberikan rahmat kepadanya, malaikat bershalawat kepada nabi berarti memohon ampunan untuk beliau, sedangkan bershalawatnya orang-orang mukmin kepada nabi adalah sebuah doa agar rahmat Allah SWT selalu dilimpahkan kepada beliau dengan harapan agar dihari qiamat kelak bisa mendapat syafaat beliau atas ijin Allah SWT.

والله أعلم بالصواب

Diposting Oleh : Ihya Ulumuddin
Sumber Gambar : http://ulumulislam.blogspot.com
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id