KENAPA عَلَيْهُ ?

KENAPA عَلَيْهُ ?

KITABACA.ID - 

Anda mungkin sering membaca al-Quran setiap harinya, sebagai kalamulloh yang paling disucikan dan diagungkan diantara kitab suci-Nya, al-Quran diyakini kaum muslimin dan muslimat akan bisa memberi syafa’at kelak di hari akhir bagi siapa saja yang membacanya, persepsi ini bisa menjadi motivasi tersendiri untuk rajin membaca setiap saat, dirumah atau dikantor, cocok dibaca saat susah, dan juga cocok dibaca disaat senang, kongkrit kata bahwa lantunan ayat suci al-Quran tetap relevan diberbagai ruang dan waktu, dalam situasi dan kondisi. Bagi anda yang belum pernah belajar ilmu tata bahasa dipesantren saat membaca ayat al-Quran mungkin biasa biasa saja dan hanya mengharap pahala yang dijanjikan Allah SWT, tetapi bagi anda yang pernah belajar ilmu tata bahasa di lingkungan pondok pesantren akan merasa perlu belajar dan mencari tahu makna dan maksud dari ayat ayat yang telah dibacanya, bahkan akan merasa sangat terusik disaat menemukan bacaan ayat yang tidak lazim harkatnya serta bertentangan dengan ilmu tata bahasa (dialektika) terutama saat menbacaayat 10pada surah al-fath berikut;

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا (10)

10. Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

 

Menurut teori, kedudukan dhomir هُ keberadaanya hanya ada pada saat nasab dan jar saja, jadi tidak ada dhomir muttasil yang rofa’ sebab dhomir ini tidak bisa dijadikan mubtada’, khobar, atau fail. Dhomir ini disaat ber-i’robnasab tidak ada masalah sebab i’rob-nya hanya mabni rofa saja seperti ضَرَبَهُ dan ضَرَبْتُهُ berbeda dengan saat kedudukannya jar yang bisa mabni dhommah dan mabni kasroh seperti لَهُ, بِه,danفِيْهِ , contoh ini menunjukkan apabila dhomir itu jatuh setelah harakat fathah maka mabni dhomma, jika jatuh setelah harakat kasroh atau setelah sukun maka mabni kasroh akan tetapi kenapa ayat diatas pada kataعَلَيْهُdhomir هُ kok dibaca dhommah yang secara teori seharusnya dibaca kasro sama dengan فِيْهِ. Apa alasannya? Bisakah dibenarkan menurut ilmu tata bahasa (nahwu)? Sementara dhomir itu hukumnya mabni (tetap) yang disesuaikan dengan teori ke-mabni-annya.Oleh sebab itu penulis mencoba mengungkap sebagian alasan ulama tentang harkat dhommahpada dhomir tersebut antara lain;

Pertama, Imam Nawawi dalam kitab tafsirnya telah menjelaskan perihal tersebut akan tetapi penjelasannya hanya sebatas mengungkapkan pernyataan bahwa imam Hafsh membaca ayat tersebut dengan harkat dhommah  dan dibaca tafkhim pada lafad عَلَيْهُ sementara yang lain membacanyadengan harkat kasroh dan beliaupun juga masih belum mengungkap alasan kenapa dhomir ini dibaca dhommah(Lihat kitab tafsir munir, karya imam Nawawi, juz 2,  halaman 305).

Ke-dua;Imam Ahmad Musthofa al-Maraghi dalam kitabnya yang fenomenal telah mengupas tuntas tentang kenapa dhomir ه pada kata عليه dibaca dhommah? Apa alasannya? Beliau menyatakan jumhur ulama memang membaca kasroh, dan imam Hafsh membaca dengan harkat dhommahdenganargumentasinya bahwa harkat dhomir muttasil (هُ)diikutkan pada harkat dhomir munfasilهُوَ karena dhomirهُ sebagai dhomir muttasilmerupakan pecahan daridhomir munfasil هُوَ  yang ha’-nya dibaca dhommah sehingga dhomir هُ pada kata  عليه juga dibaca dhommah karena mengikuti harkat dhommah pada هُ  yang melekat pada kata  هُوَ. (lihat : kitab tafsir al-Maraghi, karya imam Musthofa al-Maraghi,  juz 9, halaman 211)

والله اعلم بالصواب

Diposting Oleh : Ihya Ulumuddin
Sumber Gambar : http://islamphotos.net
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id