Islam Nusantara, Anti Radikalisme

Islam Nusantara, Anti Radikalisme

KITABACA.ID - Islam sering dituduh sebagai agama yang menganjurkan radikalisme atau kekerasan dalam menyelesaikan persoalan, bahkan jurnal internasional se level Wall Street Journal pun beberapa kali mengeluarkan pernyataan dan analisis tentang itu. Mark Juergensmeyer dalam bukunya Terror in the Mind of God, The Global Rise of Religious Violence menjelaskan bahwa “gambaran-gambaran tentang kekerasan agama tidak hanya menjadi monopoli agama tertentu, bahkan setiap tradisi agama-agama besar (Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Sihk, dan Budha) menyediakan tempat bernaung bagi para pelaku radikal… bahwa semua agama, secara inheren bersifat revolusioner, mereka mampu menyediakan sumber-sumber ideoogis untuk sebuah pandangan alternatif mengenai tatanan publik”.

Dalam sejarahnya sendiri, radikalisme dalam dunia islam sudah ada mulai abad pertama hijriyah. Terdapat beberapa radikalisme; radikalisme khawarij, radikalisme mu’tazilah, radikalisme syi’ah, dan radikalisme wahabi. Tak kalah dengan itu, di Nusantara sendiri muncul benih-benih radikalisme dan terorisme. Seperti gerakan padri radikal di sumatera barat, ponpes al mukmin ngruki Solo yang merupakan tipe pendidikan pesantren radikal, terbentuknya beberapa kelompok radikalis, seperti Laskar Pembela Islam (LPI), lascar mujahidin, komando jihad, dan lain-lain. Semangat doktrin jihad yang mereka peroleh mendasari kasus-kasus terorisme di bumi nusantara Indonesia. Munculnya radikalisme sebenarnya didasari oleh beberapa motif. Para radikalis dan teroris melakukan aksinya dengan motivasi agama, politik, sosial, atau lainnya. Berikut beberapa contoh tindakan radikal di Indonesia yang didasari oleh beberapa motif;

Pertama, agama, gerakan islam radikal di sumatera barat menjelang perang padri. Radikalisme di sana dimulai dengan membakar Balai Adat, karena di dalamnya terdapat kegiatan sabung ayam, menghisap rokok, makan sirih, dan minuman keras. Mereka beranggapan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut bertentangan dengan ajaran islam, hal tersebut merupakan kemaksiatan, sehingga harus dihancurkan dan dilenyapkan. Bom Bali I tahun 2002 dan Bom Bali II tahun 2005 merupakan tindakan anarkis, radikal,dan terror yang mengatasnamakan agama, selain alasan balas dendam atas nama saudara seiman yang dipikul sang teroris bersaudara (Hambali, Imam Samudra, dan Imron). Belakangan ini banyak sekali tindakan anarkis yang ditujukan kepada para pemuka agama di indonesia, bahkan hampir setiap pemuka agama. Walaupun tidak terbantahkan bahwa menurut pihak berwajib hal tersebut dilakukan oleh orang tak waras dan menurut beberapa kalangan ada motivasi politik di belakangnya.

Kedua, Politik, Mungkin belum hilang dari ingatan kita tentang aksi Ninja di jawa timur, khususnya di kota banyuwangi. Puluhan kyai, pemuka agama islam dibabat habis oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Umumnya mereka melakukan aksinya pada malam hari dan menggunakan topeng penutup wajah, sehingga terkenal dengan sebutan Ninja. Sebagian pihak mengatakan bahwa terror yang terjadi di Banyuwangi pada waktu itu diboncengi oleh PKI, namun tak sedikit pula yang berargumen bahwa aksi-aksi itu dilakukan atas perintah pucuk tertinggi yang lagi berkuasa, dengan kata lain politik menjadi dekeng aksi radikalisme di tempat tersebut.

Ketiga, sosial, Kejadian di Poso, Sampit, dan beberapa kota lainnya di Indonesia merupakan bukti konkrit tentang kekerasan, anarkisme yang dilakukan kelompok tertentu terhadap kelompok lainnya atas dasar perbedaan sosial dan sukuisme. Sikap kasar dan emosi tersulut oleh motif-motif tersebut.

Dari beberapa contoh di atas dapat disimpulkan bahwa kekerasan dan teror bisa tersulut kembali dan merugikan banyak pihak ketika kita tidak memahami agama dengan benar, terlalu mengagumi superioritas diri atau kelompok, fanatik terhadap golongan / madzhab / faham, dan tidak menggunakan cara dialog dengan luar kelompok karena merasa paling benar. Padahal islam sendiri tidak pernah mengajarkan kekerasan, pengrusakan, apalagi pembunuhan. Ayat-ayat Alqur’an dan Sunnah Nabi dapat dijadikan dasar bahwa islam adalah agama toleran, cinta damai, dan rahmatan lil ‘alamin. Salah satu kisah yang menguras air mata adalah berdamainya tokoh islam (Imam) dan tokoh Kristen (Pastor) di Nigeria. Berpuluh-puluh tahun mereka bermusuhan, berperang, saling mengejek dan menghina. Namun dendam mereka memudar nan musnah karena mereka sendiri sadar bahwa balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Sikap saling memaafkan merupakan obat mujarab dalam menyelesaikan pertikaian diantara mereka yang berlangsung begitu lama. Hingga pada akhirnya mereka sama-sama mendapatkan pencerahan

Radikalisme dan Terorisme memerlukan pendekatan yang komphrehensif dan lintas sektoral. Kedua faham tersebut harus didekati dengan cara-cara yang persuasif dan humanis. Sinergi dari berbagai kalangan sangat dibutuhkan; sinergi tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, tokoh adat, tokoh keagamaan, dan masyarakat pada umumnya. Dalam menyikapi, meredam, dan menyelesaikan radikalisme juga perlu diadakan pendidikan plural-multikultural sehingga tercipta suatu keyakinan yang mengakui dan menghormati orang lain atau kelompok lain yang berbeda. Berbeda agama, kelompok keagamaan, suku, etnis, adat, budaya, gender, dan lainnya. Dengan pendidikan multikultural juga diharapkan memberikan kontribusi penting bagi pembentukan “keikaan” di tengah “kebhinnekaan” yang betul-betul aktual; tidak hanya sekedar slogan dan jargon belaka. Sehingga dengan pendidikan tersebut kehidupan damai, harmonis dan toleran bisa tercipta.

Islam yang tumbuh dan berkembang di Nusantara (Indonesia) merupakan islam yang demokratis dan toleran. Sejarah menyebutkan bahwa islam yang masuk ke wilayah nusantara dibawa dengan beberapa cara; perdagangan, pendidikan, dan perkawinan. Bertahun-tahun kemudian, seiring bergulirnya waktu, islam di Indonesia berkembang begitu beragam. Ada islam jawa, islam sasak, islam kampar, dan lainnya. Begitu juga kelompok keagamaan, Indonesia memliki banyak sekali kelompok keagamaan, seperti Nahdlatul Ulama’, Muhammadiyah, Persis, Front Pembela Islam (FPI), dan lain sebagainya. Mayoritas dari mereka sebenarnya menjadikan Alqur’an dan Sunnah Nabi sebagai pedoman, namun perbedaan pendapat keagamaan dikalangan pemikir islam masih tetap begitu kental. Padahal Alqur’an sendiri adalah hidangan Allah. Yang tentu saja hidangan tersebut banyak dan beraneka ragam. Sehingga tak menutup kemungkinan terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan dalam menginterpretasikan Kalamullah. Perselisihan tak akan terjadi jika masing-masing personal mau mengerti, memahami, dan mengakui bahwa perbedaan adalah sunnatullah.

والله أعلم بالصواب

 

Diposting Oleh : Ihya Ulumuddin
Sumber Gambar : https://www.kompasiana.com
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id