Kedudukan <i>Basmalah</i> dalam Al-Quran

Kedudukan Basmalah dalam Al-Quran

KITABACA.ID - Dalam kehidupan sehari-hari umat Islam dituntut untuk selalu ingat kepada Allah SWT. Ketika mengawali sebuah pekerjaan umat Islam diharuskannya mengawali dengan membaca Basmalah yang menunjukkan pengakuan bahwa segala apapun yang terjadi adalah dari Allah SWT. Selain itu, dengan membaca basmalah diharapkan apa yang akan dikerjakan diridhoi oleh Allah SWT dan mendapat berkah.

Dalam sebuah hadits disebutkan :

كل أَمر ذِي بَال لَا يبْدَأ فِيهِ بِذكر الله وببسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم فَهُوَ أقطع

Setiap pekerjaan baik yang tidak diawali dengan menyebut nama Allah dan dengan membaca Bismillahi Al-Rahman Al-Rahim maka pekerjaan itu terputus(kurang berkah). (lihat عمدة القاري, juz 1 halaman 11).

Dari hadits tersebut dapat dipahami betapa pentingnya basmalah itu dalam kehidupan sehingga pekerjaan baik apapun yang akan dilakukan dianjurkan untuk diawali dengan Basmalah, baik itu mau sholat, menuntut ilmu, makan, tidur, menulis, membaca Al-Qur’an dan pekerjaan baik lainnya.

Basmalah dalam Al-Qur’an

Namun demikian, ada perbedaan pendapat di antara ulama’ madzhab  fiqih tentang kedudukan Basmalah dalam al-Qur’an. Kecuali, jika yang dimaksud dengan basmalah adalah yang terdapat dalam surat Al-Naml ayat 30 :

إنه من سليمان وإنه بسم الله الرَّحْمَن  

Adapun Basmalah di tempat lain dalam Al-Qur’an baik itu di surat Al-Fatihah maupun di surat lain maka ada bermacam pendapat, di antaranya :

1. Basmalah bukanlah bagian dari surat dalam Al-Qur’an secara mutlak. Akan tetapi Basmalah tetap ditulis di tiap awal surat, selain surat Al-Taubah, dengan tujuan tabarruk dan sebagai pemisah antara satu surat dengan surat yang lain. Pendapat ini dianut oleh Imam Malik, Abdullah bin Ma’bad, Al-Auza’i dari riwayat Qurra’ Madinah, Bashrah dan Syam.

2. Basmalah hanya bagian dari surat Al-Fatihah. Pendapat ini dianut oleh sebagian ulama salaf, di antaranya : Said bin Jubair dan mayoritas ulamafiqih Makkah dan Kufah.

3. Basmalah merupakan bagian dari tiap surat dalam Al-Qur’an selain surat Al-Taubah. Pendapat ini dianut oleh madzhab Syafi’i, Sufyan Al-Tsauri, Abdullah bin Mubarak dan lainnya.

4. Basmalah merupakan ayat tersendiri dan bukan bagian dari surat. Ayat ini diturunkan bersama surat-surat dalam Al-Qur’an hanya sebagai pemisah antara satu surat dengan surat lain. Pendapat ini dianut oleh Imam Ahmad, Abdullah bin Mubarak, Muhammad bin Hasan Al-Syaibani, Daud Al-Dhahiri, Abu Hasan Al-Karkhy, Abu Bakr Al-Razy dan beberapa ulama lain.( Untuk penjelasan lebih detail tentang beberapa pendapat tersebut bisa dilihat di kitab اللباب في تفسير الإستعاذة والبسملة وفاتحة الكتاب karya Sulaiman bin Ibrahim).

 Semua pendapat tersebut memiliki pijakannya masing-masing dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh para sahabat. Perbedaan pendapat tersebut selain berimplikasi pada hukum membaca basmalah dalam sholat juga berpengaruh pada proses penafsiran Al-Qur’an. Sehingga, ada mufassir yang menafsirkan Basmalah di tiap awal surat dengan tafsiran yang berbeda antara Basmalah yang satu dengan Basmalah yang lain. Mufassir yang melakukan itu adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Tafsir Al-Jailani dan Syekh Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik Al-Qusyairi, yang lebih dikenal dengan Imam Al-Qusyairi, dalam kitab Lataif Al-Isyarat.

Bagaimana gambaran penafsiran dua mufassir sufi tersebut atas Basmalah? Nantikan tulisan selanjutnya.

والله أعلم بالصواب

Diposting Oleh : Ihya Ulumuddin
Sumber Gambar : https://www.bacaanmadani.com
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id