Kompas Islam Nusantara(8) : Nusantara dan Islam Tasyakkuran

Kompas Islam Nusantara(8) : Nusantara dan Islam Tasyakkuran

KITABACA.ID - Islam turun dan tumbuh di ladang Arab dengan subur dan kokoh sampai detik ini. Islam di tanah Arab menjadi taman bunga yang harum, tumbuh lebat menjulang, melebar memayung, hingga bunganya berjatuhan bertebaran ke negeri-negeri sekitar. Putik-putik bunga yang berjatuhan itu tumbuh, menjadi taman bunga tersendiri yang indah elok dipandang mata. Itulah bunga-bunga Islam yang kini tumbuh dan memperindah dataran negeri-negeri bumi. Bunga Rahmatal lil alamin. Beruntunglah negeri yang kejatuhan bunga Islam. Banyak belahan negeri yang dipilih Allah untuk menjadi ladang Islam. Nikmat syukur yang tak terhingga.

Dan tentu, syukur ini tidak boleh berhenti pada suasana hati yang bergembira ria dengan Islam. Namun harus disertai upaya maksimal untuk merawat, mengembangkan dan menjaga Islam. Sebagai wujud bendawi abstrak, Islam merupakan barang pasif. Ia tidak akan bereaksi jika tidak ada aksi. Begitu juga, ia akan akan lapuk jika tidak disegarkan. Islam harus dirawat dengan sebaiknya-baiknya. Di tengah perjalanan pasti ada saja debu fitnah yang akan mengotori Islam. Sudah menjadi Sunnatullah, kebaikan selalu digoda dan diganggu oleh keburukan. Kadang godaan dan gangguan tersebut datang dari luar dan kadang dari dalam. Sehingga bisa jadi Islam tertutup oleh perilaku orang Islam sendiri

الإسلام محجوب بالمسلمين

Sungguh hal itu tidak boleh terjadi pada Islam, meskipun sebagian negeri Islam telah tertimpa. Mungkin karena tidak mensyukuri atau karena gangguannya terlalu besar sehingga tidak bisa dibendung. Nikmat Islam merupakan nikmat terbesar dan tak terukur. Tentangga kita saja banyak yang menyanjung Islam. Seperti apa yang dikatakan oleh H.A.R. Gibb, dalam bukunya Whiter Islam “Islam is indeed much more than a syistem of theology but it is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia adalah suatu peradaban yang sempurna). Kita yang telah menjadi empunya, tentu harus lebih dari itu menganggap Islam.

Negeri Nusantara salah satu negeri yang beruntung kejatuhan bunga Islam. Bunga tersebut ternyata diterima dengan hati berbunga oleh masyarakat Nusantara dan tumbuh subur bersamanya. Semenjak awal kehadirannya sampai saat ini belum ada tanda-tanda kepunahannya, malah semakin membesar dan moncer saja. Kebesaran Islam di Nusantara semakin membentuk panorama Islam di dataran bumi. Para pendahulu Islam di Nusantara sungguh telah beruntung. Mereka telah memiliki aset pahala mengalir yang tidak berhenti sampai sekarang. Mereka telah memiliki multilevel pahala yang terus berjejaring hingga saat ini.

Tentunya, keberuntungan itu bukan hanya dimiliki oleh para pendahulu itu. Karena generasi berikutnya tinggal menikmati. Sungguh nyata bahwa Islam di Nusantara merupakan anugerah Islam keturunan. Betapa beruntungnya seseorang yang telah Islam karena keturunan. Bapak dan ibunya Islam, nenek moyangnya Islam. Sungguh hal ini adalah nikmat yang tidak terhingga. Orang yang bernasib begitu tidak perlu mencari-cari kebenaran Islam karena Islam sudah didapatkan sejak dalam kandungan. Betapa tidak, banyak manusia dan tidak terhitung jumlahnya, mereka baru menemukan Islam setelah merambah dan berkelana mencari kebenaran agama. Apa jadinya jika kita bukan Islam keturunan, kita masih harus mencari. Iya kalo dapat hidayah ke Islam, kalo tidak? Merugilah hidup kita. Masihkah mau di dustakan nikmat ini?

 

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ[٥٥:١٨]

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

 

 والله أعلم بالصواب

Diposting Oleh : Ihya Ulumuddin
Sumber Gambar : https://www.traidnt.net
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id