Kompas Islam Nusantara (11) :Bencana Corona dan Taqdir, Renungan Liminalitas Fenomena Zaman

Kompas Islam Nusantara (11) :Bencana Corona dan Taqdir, Renungan Liminalitas Fenomena Zaman

KITABACA.ID - Pada hari raya, yang seharusnya (das sollen) gembira ria, kenyataannya (das sein) agak tidak nyaman sebab terganggu oleh berita corona di mana-mana. Bulan puasa kemaren juga seharusnya bahagia tetapi agak berkurang. Padahal puasa sendiri sudah berat. Masih ditambah wabah corona yang menghantui di mana-mana. Berat di tumpangi berat lagi (وهنا على وهن), wahnan ala wahnin. Maka ada saja orang ahli gathuk (cocoklogi) yang menghubungkan-hubungkan negeri “Wuhan” dengan ayat tersebut. Wahnin sama dengan Wuhan, tempat asal virus corona yang membuat dunia sementara ini tidak menentu (liminal). Ada yang di karantina, lokasi lockdown, tempat-tempat kerumunan manusia ditutup, bepergian di larang, ada yang ngeyel melanggar peraturan pemerintah. Sikon tidak teratur.

Sebagai umat Nabi Muhammad yang diwarisi amanah kemoderatan, keadaan ini menjadi wahana menarik untuk mempraktekkan amanah tersebut di tengah situasi ini. Kemoderatan tidak cukup dipraktekkan dengan sikap berada ditengah, atau tidak menunjukan keberpihakan atau netral begitu saja. Kemoderatan ialah sikap yang harus cermat dan cerdas dengan situasi, harus mengedepankan akal sehat (Dzawil ‘Uqul as-Salimah) dan harus berpondasikan ilmu (‘Ilmiah). Akal sehat dan pondasi ilmiah harus dijaga dan harus dilestarikan. Apalagi saat sekarang, akal sehat sedang diserang berbagai berita dan banyak yang menjadi korbannya. Banyak orang yang kehilangan akal sehatnya, akibatnya menilai orang lain dengan cara tidak sehat lagi, hanya bersasarkan suka dan tidak suka. Maka pentingnya menjaga akal sehat. Jika akal sehat berfungsi optimal maka ilmu yang dihadapinya akan dipahami dengan baik dan jelas an-gelnya.

Dulu pada zaman kepemimpinan Sayyidina Umar bin Khattab juga terjadi bencana serangan “virus ‘amwas”. Dinamakan amwas karena berada di daerah bernama ‘Amwas. Saat itu Umar sedang gencar-gencarnya melakukan pembebasan ke luar Arab dan Sayyidina Ubaidah bin Jarrah yang sedang berada di daerah ‘Amwas memimpin pasukannya. Suatu saat Sayyidina Umar mau mengunjungi Ubaidah bin Jarrah dan pasukannya. Sebelum di daerah amwas, Sayyidina Umar disambut oleh Sayydina Ubaidah. Setelah bertemu, Ubaidah menceritakan tentang Virus tersebut. Karena itu Umar memerintahkan Ubaidah dan pasukannya agar keluar dari daerah tersebut. Tetapi yang terjadi, Sayyidina Ubaidah menolak perintah itu. Beliau berpendapat bahwa jika keluar maka telah lari dari taqdir Allah. Menurut Sayyidina Umar, itu bukan lari dari taqdir Allah tetapi pindah dari taqdir Allah yang satu ke taqdir Allah yang lain. Mana yang benar dari kedua pendapat tersebut?

Tulisan ini tidak sedang menilai mana yang benar dari kedua pendapat tersebut. Karena mereka berdua sama-sama berijtihad yang pahalanya sudah disediakan masing-masing. Tetapi yang lebih menarik kayaknya pendapatnya Sayyidina Umar karena beliau memainkan peran ikhtiar dan akal sehat untuk terus survive melawan kematian. Sayyidina Umar sedang memainkan peran kecendekiaan akal. Virusnya pada waktu itu berada dalam suatu daerah maka Umar berpendapat bahwa penduduk dalam daerah itu harus keluar dan yang di luar harus tetap di luar karena di dalam tidak aman. Pendapat ini logis dan empiris. Masuk akal dan di lapangan memang faktanya begitu. Harus di luar karena virusnya di dalam.

Nah berbeda dengan isu virus corona sekarang. Jika kita mau mengikuti pendapat Sayyidina Umar maka bagaimana seharusnya? Berbeda konteknya. Jika dulu virus amwas berada di dalam daerah sementara isu virus corona sekarang ada di luar. Maka, jika pada waktu virus amwas orang harus ke luar maka sekarang harus di dalam karena virusnya di luar. Inilah cara berpikir yang tepat. Tekstual dan juga kontekstual. Maka kebijakan pemerintah saat ini sudah benar. #Di rumah saja# karena virusnya di luar. Urusan apakah wabah corona itu murni virus atau konspirasi global itu urusan lain. Ada pembahasan tersendiri. Yang jelas, virus yang mendunia ini jangan sampai membuat orang sempoyongan, kehilangkan kecerdasan berfikir, sebaliknya harus tetap logis, empiris, tektualis dan kontekstualis. Seimbang, moderat.

Sepintas, virus global ini seperti uji coba kiamat karena dalam catatan sejarah baru sekarang ada virus yang serangannya mengjangkau seluruh dunia. Hampir semua negara tertimpa seakan tak ada tempat aman dari serangan virus ini. Mau lari ke mana? Sama seperti ekspresi ayat Qur’an surat qiyamah يَقُولُ الإِنسَانُ يَومَئِذٍ أَينَ المَفَرُّ, كَلَّا لَاوَزَرَ (Pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat lari?”. Sekali-kali tidak! tidak ada tempat berlindung)

Kiamat pasti ada, Cuma kapan dan dimana start-nya yang tidak diketahui. Kiamat itu aqidah Islam bukan hanya harga mati tapi “tak berharga”, artinya kita tidak bisa membrandol harga kiamat karena terlalu tinggi maqomnya. Tapi terhadap kiamat apakah harus takut apalagi sampai berlebihan? Takut ya iya, itu pasti. Namun Allah kan membagi-bagi jaminan ketenangan di tengah-tengah kiamat. Allah juga Maha Melindungi. Begitu juga terhadap virus global ini, takut ya iya, tapi kesehatan hati jangan sampai hilang.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ, إِلَّا مَنْ اَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

“Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersiha” (QS, 26: 88-89)

 والله أعلم بالصواب

Diposting Oleh : Ihya Ulumuddin
Sumber Gambar : https://pustakabergerak.id
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id