Kompas Islam Nusantara (12) : Gerakan

Kompas Islam Nusantara (12) : Gerakan "Puting Beliung"

KITABACA.ID - Islam datang membawa arus kemanfaatan dan kedamaian. Ia datang dengan tersenyum di tengah kecemberutan arus kehidupan padang pasir Makkah. Menyapa kaum papa, budak-budak kaum Jahiliyah yang hina-dina. Jangankan hidup nyaman, terlintas saja dalam pikiran mereka tidak ada. Beruntung sekali umat yang lahir dalam masa keemasan Islam, sebagian contohnya di Indonesia (Nusantara). Nikmat apa yang engkau dustakan? Sudikah kita tergolong umat pendusta nikmat, pengingkar (kufur) nikmat? Rasanya, akal yang sehat menolak jauh-jauh itu.

Islam berlimpah nikmat dzahiriyah dan bathiniyah. Hanya saja, memang harus berusaha untuk menggapai nikmat Islam. Harus ada ikhtiyar, perjuangan, keuletan (trengginas/tenacity). Dan sejatinya dengan inilah hidup jadi bermakna, penuh arti (full meaning) agar manusia tidak hidup percuma sebagai makhluk yang dianugerahi kedahsyatan nikmat rasa. Dan orang-orang besar dalam sejarah, yang dikenal dengan nama wali dalam Islam merupakan manusia-manusia shaleh yang telah berhasil menekan tombol lautan rasa dalam dirinya. Jiwanya dipenuhi rasa nikmat, rasa bahagia yang melampaui rasa takutnya. Oleh karena, para wali Allah tidak kwatir dan tidak susah kapanpun dimanapun. Sebenarnya dalam jiwa manusia ada sebuah memory jiwa yang kuotanya bertera-tera melebihi memory benda elektrik apapun. Para kekasih Allah lah yang beruntung bisa membuka memory jiwa tersebut.

Keberadaan mereka, para wali Allah membawa angin segar, sepoi-sepoi, mendesir-desir yang menerpa hati umat. Ajakan mereka sejuk penuh rasa kedamaian. Ajakan mereka benar-benar Islam banget, mengikuti angin segar junjungan agungnya, Kampium Islam, Nabi Muhammad saw. Para wali mampu memainkan getaran angin dakwah pada setiap waktu dan tempat. Di Nusantara, tidak sama dengan suhu di Arab. Suku di Nusantara beriklim tropis, angin yang berhembus di Nusantara rupa-rupa warna dan tekanan. Al-hasil, para wali yang terkenal dengan sebutan walisongo itu berhasil melabuhkan angin segar Islam di bumi ini. Rahasia apa gerangan?

Fakta tidak bisa dibantah, negeri Indonesia telah menjadi negeri penuh nikmat, menjadi negeri besar dengan Islam (the giant country full Islam). Bahkan nuansa Islamnya sangat khas. Tidak salah jika Prof. Azyumardi Azra menjuluki negeri Islam di Indonesia dengan the flowery of Islam (Islam berbunga-bunga). Di tengah perjalanan, laju besar angin Islam di Indonesia memang tidak mulus. Sesekali ada angin aneh yang menyerupai angin Islam yang merusak keindahan angin Islam. Angin itu berbentuk pusaran angin semacam angin Puting Beliung atau Tornado. Berputar-putar mengerucut ke bawah dan menerjang apa saja di hadapannya. Angin ini kadang datangnya dari luar, kadang dari dalam. Cukup berbahaya, merusak tatanan bukan memperindah. Kadang berbentuk ormas kadang berbentuk gerakan.

Angin semacam ini bisa merusak gelombang eter yang melingkupi kita. Tak terasa, sebetulnya kita hidup dibumi ini sedang berenang di tengah-tengah gelombang eter. Sebuah gelombang yang menjadi piranti penghubung antara manusia dengan manusia lain, antara benda dengan benda lain. Sangat logis jika manusia bisa merasakan manusia lain, benda lain bisa menyadap benda lain, seperti handphone seluler. Handphone bisa bersambung tanpa kabel fisik penghubung, karena ada gelombang eter. Gelombang ini akan terganggu jika diterjang angin berbahaya seperti Puting Beliung atau Tornado.        

Gerakan angin Puting Beliung dari dulu ada sampai sekarang. Bahkan sekarang frekuensinya cukup tinggi karena powernya semakin ada yang memperkuat. Umat Islam jelas tidak menginginkan angin jenis ini. Oleh karena itu, harus ada deteksi dini dan kewaspadaan super. Jangan sampai angin ini menerjang umat, apalagi menjadi bagian dari angin bahaya tersebut. Semoga Allah Yang Maha Melindungi menyelamatkan umat dari angin bahaya dan bagi mereka yang sudah terlanjur masuk atau menjadi bagian dari angin tersebut segera dilepaskan. Badai bersegeralah untuk berlalu! Umat Islam di Nusantara sudah hidup nikmat dengan angin semilir Islam, sejuk meresap ke relung-relung jiwa. Jiwa yang tenang, non-pendzaliman dan kedzaliman. Suasana jiwa yang memang dikehendaki oleh agama yang luhur ini.

لَا تَظْلِمُوْنَ وَلَا تُظْلَمُوْنَ…..

“…kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya” (Q.S 2:279)

 

والله أعلم بالصواب

Diposting Oleh : Ihya Ulumuddin
Sumber Gambar : https://www.idntimes.com
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id