Kompas Islam Nusantara (13) ; Seni dalam Beragama

Kompas Islam Nusantara (13) ; Seni dalam Beragama

KITABACA.ID - Hidup adalah anugerah dari Allah s.w.t. Hidup bukanlah sesuatu yang kebetulan, melainkan telah tercatat dalam skenario besar Allah Azza wa Jalla. Hidupnya seorang manusia dalam individunya atau dalam bersosialnya juga telah tercatat. Hanya saja, bagaimana manusia memerankan hidup ini dalam episode-episodenya dengan baik sehingga memiliki makna dalam menjalankan kehambaannya. Manusia dinugerahi kemulyaan akal dan budi pekerti agar digunakan untuk memerankan hidupnya dalam sarwa alam ini dengan indah dan beradab. Oleh karena itu, manusia memerlukan seni dalam memainkan perannya sebagai makhluk yang mulya agar dapat menunjukan perbedaannya dengan makhluk lain yang bukan manusia.

Hidup bukanlah main-main tetapi hidup adalah permainan. Oleh karena itu, permainan memerlukan seni dalam bermain sehingga tampak indah dan elok ditonton. Permainan olah raga, semisal pertandingan sepak bola, sepak takraw, bulu tangkis terlihat indah dan enak ditonton karena menggunakan seni permainan.  Ilmu bela diri yang asalnya kasar menjadi indah karena dibalut dengan seni, terciptalah akhirnya menjadi seni bela diri. Begitu juga perang, yang hal itu sangat dikutuk dunia, menjadi kelihatan menarik jika menggunakan seni dalam berperang. Seni dalam kehidupan memiliki arti penting. Dan agama Islam adalah sebuah agama yang sangat menjunjung tinggi pentingnya seni dalam segala turunan ilmunya, seni membaca al-Qur’an (tajwid), seni  menggali hukum (ushul fiqh), seni meresapi al-Qur’an (tasawwuf), dan lain-lain, termasuk juga seni dalam menebarkan agama Islam (dakwah).

Nabi Muhammad s.a.w telah membangun pondasi seni besar dalam dakwah dengan dawuhnya

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا, بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُواْ

Mudahkanlah dan jangan persulit, dan berilah kabar gembira jangan ditakut-takuti

Dasar seni yang indah ini dipraktekkan oleh para penerus Nabi Muhammad s.a.w dan para penerus selanjutnya dengan pengembangan cara yang disesuaikan dengan penduduk lokal setempat. Mereka para ulama yang ada di Arab melakukan dakwah sangat bijaksana. Seperti al-Imam Anas bin Malik yang terkenal dengan Imam Malik juga melakukan dakwah hukum yang sangat bijak, sehingga salah satu pedoman beliau dalam mengambil hukum terkenal dengan tradisi ahlu Madinah karena dia tinggal di Madinah. Dan tentu ulama yang lain yang terlalu banyak untuk disebutkan.

Termasuk negeri Nusantara, anugerah Tuhan yang tak ternilai ini. Begitu piawainya para pendahulu dari pejuang Islam yang berdakwah di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Mereka para ulama tersebut adalah seniman-seniman sejati dalam berdakwah yang ilmunya belum tentu dikuasasi oleh generasi saat ini, kecuali oleh secuil manusia yang selevel dengan para ulama terdahulu di Nusantara ini.  Mereka para ulama di Nusantara berkorban sampai bergabung, melebur dengan rakyat jelata demi sebuah dakwah agung. Ternyata mereka tidak lain telah memerankan seni agung dalam berdakwah. Dengan kelihaiannya seni agung tersebut, hari ini dapat dilihat dengan terang benderang hasilnya. Nusantara dipenuhi umat yang bergelimang dengan agama Islam. Sementara kita apa yang sudah diberikan? Generasi saat ini hanya tinggal menikmati hasil. Yah, minimal generasi saat ini harus mampu menjaga dan merawat hasil panen tersebut.

Seandainya para penebar Islam di Nusantara tidak menggunakan seni dalam berdakwah, bisa jadi pemandangan yang ada saat ini tidak seindah yang ada di depan mata. Tetapi karena mereka, para ulama, menggunakan seni dalam berdakwah maka pemandangan yang ada di Nusantara sekarang, tak ubahnya seperti sumber mata air di tengah-tengah padang pasir yang luas, gersang dan panas. Semakin hari, Nusantara (Indonesia) semakin menjadi rujukan dunia sebagai potret Islam yang rahmatal lil alamin.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿النحل: ١٢٥﴾

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang dapat petunjuk”.

والله أعلم بالصواب

Diposting Oleh : Ihya Ulumuddin
Sumber Gambar : https://www.pojokseni.com/
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id