Ini 3 Tingkatan Puasa. Kita di Level yang Mana?

KITABACA.ID - Definisi puasa secara bahasa adalah menahan diri atau meninggalkan (تَرَكَ dalam Bahasa arab). تَرَكَ  ini agaknya kemudian digunakan oleh orang Jawa dengan merujuk pada makna yang sama. Orang jawa menyebut tarak. Dalam penggunaannya bisa diambil contoh tarak sego, artinya tidak makan nasi atau makanan yang terbuat dari bahan beras.  

Mari kita kembali pada term puasa yang dilakukan oleh umat Islam. Secara istilah puasa adalah menahan diri untuk tidak makan tidak minum dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Itu definisi yang umum yang disampaikan dalam kitab-kitab fiqih. Namun, dalam catatan Al-Jurjawi puasa diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan yaitu, 1. puasa awam, 2. puasa khusus, 3. puasa khusus al-khusus.

Puasa level pertama, puasa orang awam. Puasa model ini merujuk pada puasa yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban atau formalitas puasa yaitu tidak makan tidak minum dan tidak berhubungan badan suami istri atau hal-hal yang membatalkan puasa itu sendiri. Dalam puasa model pertama ini kadang prakteknya pelaku puasa tidur dari setelah sahur atau setelah subuh dan bangun pada waktu dhuhur bahkan kadang jam 2 siang. Kadang juga orang yang berpuasa level ini masih melakukan hal-hal yang dilarang atau maksiat seperti menggunjing orang, dengki, iri, fitnah dan lain sebagainya. Kembali lagi, puasa model begitu sah secara formal tapi sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad SAW ,

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya: “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad)

Terkadang juga, orang yang berpuasa di level ini di malam harinya masih menuruti keinginan-keinginan/sahwat seperti makan sebanyak-banyaknya dan minum berbagai macam minuman

Puasa level kedua, puasa khusus. Dalam prakteknya pelaku puasa level ini tidak hanya memperhatikan formalitas puasa seperti pada level pertama tadi, tapi juga mencegah diri dari terjerumus dalam kemaksiatan seperti ghibah, mengumpat, berbohong, mengambil hak orang lain dan hal-hal lain yang termasuk dalam kemaksiatan. Pelaku puasa ini banyak berdzikir kepada Allah SWT dan menyucikan diri. Di malam harinya orang-orang pada level ini tidak makan berlebihan, hanya makan sesuai kebutuhan standard saja,

Puasa level ketiga, puasa khusus al-khusus. Puasa pada level ini menahan syahwat perut dan kemaluan, menahan terjerumus dalam kemaksiatan dan menahan hati dan pikiran untuk  memikirkan selain Allah SWT. Maka orang pada level ini tidak akan memikirkan dunia kecuali jika dalam urusan dunia itu ada kemaslahatan dan kewajiban baginya. Hati dan pikirannya selalu connected dengan Allah SWT. Jika terlintas sedikitpun fikiran tentang makanan yang nanti akan dimakan saat berbuka puasa maka puasanya dianggap batal. Karena memikirkan makanan seperti itu menunjukkan kurangnya kepercayaan kepada Allah SWT. Sang Pemberi rizki yang melimpahkan rizki kepada hamba-Nya tanpa terduga. Puasa level ini dilakukan oleh para nabi dan Rasul. (lihat Syekh Ali Ahmad Al-Jurjawi, Hikmat al-Tashri’ wa Falsafatuhu,(Kairo; Dar al-Fikr, 2003), 145-147)

Puasa kita tahun ini harusnya lebih baik dari puasa kita tahun kemarin, begitupun tahun depan jika kita dipertemukan dengan bulan Ramadan puasa kita harus lebih baik dari puasa tahun ini Mari kita berusaha untuk naik tingkat dari puasa level pertama ke puasa level kedua.  Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah SWT. untuk berpuasa yang tidak hanya menahan makan minum dan lain sebagainya tetapi juga menahan diri dari melakukan maksiat maksiat anggota badan serta hati dan pikiran kita lebih  banyak terhubung dengan Allah SWT. Kenaikan level ini membutuhkan atihan-latihan yang tidak sebentar. Ini memang sulit tapi bukan berarti mustahil, bukan?!.

 والله أعلم بالصواب

Diposting Oleh : Kaka
Sumber Gambar : http://kitabaca.id
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id