Kompas Islam Nusantara (15); Teladan Konferensi MWC NU Kec. Tekung, Mendahulukan Bukan Mendahului"

KITABACA.ID-Ketika Sayyidina Umar ibn Khattab r.a ditunjuk oleh Sayyidina Abu Bakar r.a untuk menggantikan dirinya sebagai pemimpin, Umar ibn Khattab menangis tersedu-sedu. Dia merasa tidak pantas melanjutkan kepemimpinan Abu Bakar, seorang yang shaleh, sementara dirinya merasa penuh dengan dosa. Namun, pada akhirnya dia tetap jadi pemimpin karena mendapat dukungan sahabat yang lain. Dan dalam masa kepemimpinan Umar bin Khattab, Islam mengalami kemajuan gemilang. Islam semakin meluas dan diterima oleh negara lain karena keagungannya. Sebuah agama baru saat itu, yang menunjukkan moral luhur dan memukau umat.

Ketika Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang, KH. Mustofa Bisri menolak dipilih sebagai Rais Aam Syuriah PBNU karena beliau merasa ada yang lebih afqoh. Sehingga, terpilihlah KH. Makruf Amin sebagai Rais Aam PBNU pada masa itu. Sehingga jadilah beliau Rais Aam yang kapabel dan pada akhirnya menjadi wakil presiden yang membanggakan Nahdlatul Ulama.

Budaya berperilaku dalam kepemimpinan seperti pemandangan di atas, telah tercermin semenjak Islam lahir di tanah Arab sana dan terjaga hingga kini. Sebuah pemandangan indah untuk dijadikan pedoman dalam bersikap ketika dihadapkan pada suksesi kepemimpinan. Kepemimpinan menyangkut kepentingan umat yang harus dipikirkan. Jabatan pimpinan bukanlah kursi goyang yang bisa dinikmati siapa saja tetapi sebuah pelayaran yang membutuhkan nahkoda yang handal. Jabatan pimpinan bukanlah hidangan makanan yang tinggal menuruti nafsu makan tetapi sebuah tanggung jawab yang membutuhkan kendali nafsu.

Pemandangan suksesi kepemimpinan yang indah terlihat juga dalam konferensi MWC NU Tekung. Pengurus NU tingkat kecamatan ini menggelar konferensi pada hari Ahad 26 Juni 2022. Sebagaimana lumrahnya, kegiatan ini diawali dengan ceremonial dan proses sidang-sidang berikutnya, baik pleno dan komisi. Tahap demi tahap proses sidang-sidang berjalan dengan lancar. Acara berlangsung dengan khidmat dengan selentingan humor-humor segar ala Nahdlatul Ulama sehingga acara menjadi penuh dengan keakraban. Di sisi lain, cuaca sangat mendukung, hanya deraian hujan sekilas sebagai penyejuk acara.

Pada akhir sesi, sampailah kepada acara pemilihan ketua MWC NU Tekung yang baru. Pimpinan sidang yang dipegang oleh PC NU Lumajang memimpin jalannya persidangan dengan tangkas, mulai dari penataan bagian peserta sampailah kepada pembentukan ahwa, kemudian menentukan calon Rais Syuriah. Saat itu tampil tiga nama, Kyai Zuhri, Kyai Siyam dan Ustad Thoyyib. Hanya saja, karena Kyai Zuhri berhalangan, sehingga tidak bisa mengikuti sidang sampai selesai. Tinggallah 2 orang calon, Kyai Siyam dan Ustad Thoyyib. Sesuai mekanisme persidangan, keduanya dipersilahkan memasuki ruangan khusus untuk bermusyawarah menentukan Rais Syuriahnya. Situasi sidang sedikit terbaca apa yang akan terjadi. Kyai Siyam adalah kyai senior di wilayah kecamatan Tekung sementara Ustad Thoyyib dari sisi usia terhitung lebih muda. Di sini budaya mendahulukan, bukan mendahului terjadi lagi. Tak pelak yang terjadi, Kyai Siyamlah yang akhirnya terpilih sebagai Rais Syuriah.

Pemandangan lebih menarik lagi terjadi ketika pemilihan ketua Tanfidziyah. Muncullah lima nama senior dalam bakal calon. Aba Salim, Ustad Abdurrohman, Aba Narto, Pak Ulum dan Aba Basori (incumbent). Lima calon ini adalah kader terbaik dalam lingkungan MWC NU kecamatan Tekung. Namun, yang memenuhi persyaratan suara hanya dua orang yakni Aba Narto dan Pak Ulum.

 Yang menarik, ketika dua nama ini muncul di daftar calon, dua orang ini memang sudah duduk berduaan dari awal dan satu bangku di dekat penulis. Posisi yang kebetulan ini semakin menampakkan budaya mendahulukan bukan mendahului, yang tampak dari percakapan dua calon ini. Ketika sampai pada sesi penyampaian visi dan misi, aba Narto mendapat kesempatan pertama. Dia dengan rendah hati menyampaikan kesiapannya sebagai calon. Hal ini menunjukkan komitmennya sebagai kader NU. Namun dia menyampaikan kelemahan dirinya dalam suatu hal.

Giliran berikutnya, ketika Pak Ulum memegang mikrophon, justru dia tidak menyampaikan visi dan misinya tetapi malah mempromosikan Aba Narto sebagai calon yang layak dipilih. Sungguh pemandangan yang amat indah. Mendahulukan, bukan mendahului. Inilah cerminan al-akhlak al-karimah yang terpantul dari konferensi MWC kecamatan Tekung, sebuah wilayah kecil di sudut ruang Nusantara yang luas ini. Akhirnya, Aba Narto terpilih menjadi ketua yang akan menahkodai MWC NU kecamatan Tekung ke depan. Terlihat sekali di wajahnya, dengan perasaan terharu Aba Narto menerima mandat konferensi ini. Mudah-mudahan menjadi pemimpin yang sukses gemilang.

Sebuah organisasi harus ada pemimpin dan umatnya. Kedua belah pihak harus berjalan sinergi. Pemimpin harus merakyat dan rakyat tidak boleh merepotkan pemimpinnya. Nahdlatul Ulama adalah organisasi ulama sebagai pewaris para Nabi. Para Nabi telah mewarisi al-akhlak al-karimah, perilaku yang luhur untuk ditiru. Nahdlatul Ulama harus berjalan di jalur al-akhlak al-karimah tersebut. Salah satunya adalah "mendahulukan, bukan mendahului"

         

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلَاقِ (الحديث)

"Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak"

Diposting Oleh : Kaka
Sumber Gambar : http://kitabaca.id
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id