Memahami Tasawuf (1)

Tasawuf yang dilakukan oleh ulama salaf dan pelaku tasawuf akhir-akhir ini banyak yang mempertanyakan. Sebenarnya tasawuf itu dari islam atau bukan?. Kadang ada yang mencurigai praktek tasawuf itu meniru agama lain. Ada yang menuduh tasawuf itu melenceng dari ajaran Rasulullah SAW.

Semua itu lumrah karena barang yang bagus banyak yang meniru. Kalau kita punya merk terkenal, ambil contoh KFC, maka banyak orang yang akan meniru bungkusnya saja dan kadang dirubah sedikit menjadi HFC. Sepeda motor Supra X juga pernah mendapat “tandingannya” yaitu Super X dan lain sebagainya.

Ketika orang meneliti dan yang diteliti adalah tiruannya itu maka nanti akan menyimpulkan bahwa tasawuf itu adalah melenceng karena tasawuf yang diteliti adalah tasawuf yang imitasi. Kasus seperti itu banyak sekali. Oleh karena itu perlu sekali kita mempelajari tasawuf itu menggunakan alat yang tepat.

Apakah kita mempelajari tasawuf hanya sebagai ilmu pengetahuan yang biasanya menggunakan pengamatan, hipotesa dan lain-lain. Apakah kita akan menggunakan kekuatan hukum akal yang terbatas dan selalu bertanya tanya tentang sebab akibat yang mana akal itu selalu menyimpulkan menggunakan beberapa term atau ungkapan dan menggabungkan variable-variabel.

Contohnya ungakapan “setiap orang itu makan”. Itu data awal. Data kedua, “hewan itu makan”. Kemudian disimpulkan menjadi “manusia itu hewan”. Kesimpulan itu hasil Analisa akal. Jika data awal itu melenceng dan cara menyimpulkannya salah maka kesimpulannya adalah kesimpulan yang salah.

Apakah tasawuf itu akan didekati dengan cara seperti itu?

Ada lagi alat lain yang agak tepat untuk mendekati tasawuf. Manusia selain menggunakan akal juga mempunyai potensi ruh. Ruh sendiri memiliki banyak definisi. Yang umum, Ruh adalah jati diri kemanusiaan yang sering kali mendapat pencerahan, tiba tiba ruh mengerti.

Contohnya kalau kita diteliti dan ditanya oleh akal mulai kapan kita mengerti tentang kita? Itu tidak bisa dijawab karena itu adalah isyraq/pencerahan. “Aku” tahu tentang “aku” itu sendiri dan itu tidak menggunakan akal dan tanpa menggunakan penelitian.

Kalau menggunakan penelitian maka tidak akan bisa menemukan “aku” itu sendiri. Itu adalah isyraq. Tanpa dicari itu sudah ada. Yang menerima pemahaman tentang aku itu tadi disebut ruh, prosesnya menggunakan isyraq/pencerahan.

Selanjutnya, tadi kita membahas ilmu. Yang dimaksud ilmu di sini adalah pengetahuan. Jika kita hendak memasuki alam tasawuf menggunakan ilmu maka pengamatan itu hanya bisa mengamati kulit dan penampilan luar saja.

Akhirnya ada yang tertipu bahwa tasawuf itu adalah menggunakan pakaian yang jelek, pakaian bau, pakai sarung di bawah lutut, tidak bekerja, malas-malasan dan sebagainya. Itu adalah penampilan luar yang kemudian disimpulkan bahwa itulah tasawuf.

Padahal tasawuf bukan demikian. Walaupun mungkin ada beberapa keadaan seorang pejalan tasawuf, karena suatu pelajaran, dia melakukan hal itu dan itu sebenarnya tidak selamanya. Tapi sekali lagi bukan itu tasawuf.

About Ihya' Ulumuddin

Check Also

pengantar memahami tasawwuf

Pengantar Memahami Tasawwuf

KITABACA.ID-Sampai saat ini masih banyak yang bertanya tentang tasawuf. Pertanyaannya terkait orisinalitas tasawuf sebagai “produk” …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *