Memahami Tasawuf (2)

Selanjutnya ada yang mengamati tasawuf dengan akal, yaitu menggunakan analogi. Ketika kita menggunakan akal untuk memasuki lautan tasawuf yang tidak terbatas itu maka kemampuan akal itu hanya mampu mengamati materi luar walaupun materi luar tersebut merupakan bahan awal penyimpulan akal.

Contohnya ini ada satu lidi, ada lagi satu lidi. Jika dikumpulkan maka menjadi dua lidi. Contoh tersebut bahan awalnya adalah materi.

Sementara tasawuf, bahan yang dipakai adalah non materi, sesuatu yang ghaib. Sesuatu yang tidak terbatas. Jika kita menggunakan akal maka tidak akan mampu mencapai kesimpulan yang tepat.

Ibaratnya kita ingin mengarungi seluruh dirgantara tapi sebenarnya kemampuan kita adalah menerbangkan layangan saja. 

Apa lagi ini mau mempelajarai apa yang ada di balik alam kemanusiaan itu sendiri, yang itu terkait erat dengan cahaya kenabian, alam wahyu, alam ghaib, alam inti manusia yang manusia itu sendiri adalah rahasia Allah SWT. Jika itu didekati dengan akal maka akan mengalami penyempitan persoalan manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, untuk memudahkan bagaimana kita bisa memahami tasawuf maka jangan menggunakan alat yang remeh. Begitu luasnya tasawuf maka yang bisa menjangkau tasawuf itu adalah hati kita sendiri.

Maka dari itu, dalam kitab Al-Hikam banyak pembahasan yang mungkin bertentangan dengan kesimpulan akal orang awam. Yang salah sebenarnya bukan akalnya tapi bahan yang dibuat untuk menyimpulkan itu kurang tepat.

Contohnya; orang yang berusaha maksimal maka dia itu yang akan sukses dan berhasil menjadi orang kaya. Dalam contoh tersebut ada sebab yaitu usaha dan ada akibat yaitu kaya. Dari sini akal akan menyimpulkan bahwa kaya itu berasal dari usaha.

Karena akal hanya memahami itu maka sampai di manapun akal akan mengkampanyekan kesimpulan tersebut : jika tidak berusaha tidak akan kaya.

Ini sudah tidak tepat jika dikaitkan dengan ajaran tasawuf karena tasawuf itu berawal dari pemahaman iman, sementara iman itu salah satu rukunnya adalah percaya dengan ketentuan Allah SWT. Kaya dan miskin adalah ketentuan Allah SWT. Sementara usaha itu adalah perintah.

Karena kesimpulan awalnya sudah keliru; antara sukses dengan usaha dianggap sebab akibat, maka terjadi kerancuan. Berbeda dengan itu, akal iman mengatakan bahwa “sukses itu pemberian Allah SWT”. Itu data pertama.

Data kedua adalah “berusaha itu perintah”. Masing-masing memiliki jalurnya sendiri. Jika kita memaksa mempertemukan dua jalur yang berbeda tersebut maka terjadi kerancuan.

Itulah penjelasan dan gambaran awal tentang tasawuf

Kemudian, apakah kita tidak perlu bekerja? Simak penjelasan selanjutnya di tulisan berikutnya.

About Ihya' Ulumuddin

Check Also

pengantar memahami tasawwuf

Pengantar Memahami Tasawwuf

KITABACA.ID-Sampai saat ini masih banyak yang bertanya tentang tasawuf. Pertanyaannya terkait orisinalitas tasawuf sebagai “produk” …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *