Menimbang Amaliyah Umat Islam Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri

KITABACA.ID - Ketika suatu umat menjadikan hari raya sebagai ajang untuk menampakkan kebahagian maka rahmat dan kemuliaan dari Allah SWT lebih utama bagi umat Islam untuk berbahagia akan rahmat dan kemuliaan ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Yunus: 58

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad): "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”

Dan diantara bentuk rahmat dan kemuliaan dari Allah SWT kepada kita adalah dimana Allah SWT telah menjadikan suatu bentuk ketaatan dalam diri kita dengan meniti jalan-Nya seperti melakukan amalan-amalan yang telah Rasulullah SAW contohkan kepada kita semua dalam mengapresiasikan kegembiraan dalam Idul Fitri sehingga dalam momen bahagia ini tidaklah umat Islam merayakannya dengan bentuk kemaksiatan seperti halnya orang-orang jahiliyah terdahulu yang merayakan hari raya mereka dengan pesta ria meminum arak, berjudi, bermain wanita bahkan lebih banyak lagi, maka dari itu kita harus mengetahui apa itu amalan sunnah yang telah Nabi contohkan kepada kita dan apakah amalan sunnah tersebut sudah sesuai dengan kebiasaan penduduk Indonesia saat lebaran?

Dinukil dari Kitaab Al Shiyam Daar Al Ifta` Al Mishriyah, diantara kesunnahan yang dianjurkan saat Idul Fitri adalah:

1. Tazaawur

Tazaawur berasal dari tsulatsi mujarrod “zaaro” yang artinya mengunjungi, kemudian diikutkan wazan tafaa`ala menjadi tazaawaro untuk menambahkan faidah makna saling, maka tazaawur berarti saling mengunjungi, saling mengunjungi ini dimaksudkan saling mengunjungi antar sanak keluarga, kerabat, tetangga, teman dan para guru sebagaimana telah dicontohkan oleh Sahabat Abu Bakar As Shiddiq RA yang mana beliau berkunjung ke rumah baginda Rasulullah SAW pada saat hari raya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah RA:

دَخَلَ أبو بَكْرٍ وعِندِي جَارِيَتَانِ مِن جَوَارِي الأنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بما تَقَاوَلَتِ الأنْصَارُ يَومَ بُعَاثَ، قالَتْ: وليسَتَا بمُغَنِّيَتَيْنِ، فَقالَ أبو بَكْرٍ: أمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ في بَيْتِ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وذلكَ في يَومِ عِيدٍ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: يا أبَا بَكْرٍ، إنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وهذا عِيدُنَا (أخرجه البخاري)

Artinya: Abu Bakar berkunjung kepadaku sedangkan aku mempunyai 2 khodim perempuan dari kalangan Ansor, mereka berdua bernyanyi sebagaimana nyanyian yang dilantunkan oleh kaum Ansor pada hari Bu`ats kemudian aku berkata: “mereka bukanlah peyanyi terkenal” lalu Abu Bakar berkata: “Apakah benar seruling setan dimainkan di rumah Rasulullah SAW?” kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Wahai Abu Bakar, setiap kaum mempunyai hari raya dan ini adalah hari raya kita (hari raya Idul Fitri)” (HR: Bukhori)

Dalam hadits tersebut telah jelas bahwa Abu Bakar mengunjungi Rasulullah SAW pada saat hari raya idul fitri sebagai bentuk silaturahmi kepada beliau, maka dari itu juga Ibnu Hajar Al Asqolani menuturkan suatu hikmah kenapa Rosulullah SAW mengambil jalan berbeda saat pulang seusai pelaksanaan sholat Ied? Yaitu tidak lain untuk mengunjungi kerabat beliau baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup atau untuk meyambung tali silaturrahmi.

2. Ziyaroh kubur

Ziyaroh kubur pada asalnya adalah sunnah bagi orang laki-laki sebagaimana kesepakatan para ulama`, walaupun tidak ada hadits yang menjelaskan mengenai kapan waktu yang disyariatkan untuk melaksanakan ziyaroh kubur secara umum, akan tetapi ziyaroh kubur termasuk suatu kesunnahan yang dianjurkan pada saat hari raya Idul Fitri sebagaimana penjelasan pada poin pertama, mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

زوروا القبورَ فإنَّها تذَكِّرُكمُ الآخرةَ (رواه ابن ماجه)

 Artinya: “Berziyarohlah kalian ke kuburan karena sesungguhnya ziyaroh kubur itu mengingatkan kalian akan kematian” (HR: Muslim)

Dari hadits ini dapat kita fahami bahwa ziyaroh kubur adalah suatu kesunnahan yang telah Rosulullah SAW contohkan kepada kita untuk melakukannya, dalam hadits tersebut juga terdapat hikmah dari ziyaroh kubur yaitu mengingatkan kita akan kematian, bagaimana mengenai wanita akan ziyaroh kubur? Seorang wanita tidak dianjurkan untuk melakukan ziyaroh kubur karena kelembutan hati mereka sehingga khawatir mereka akan merasakan kesedihan yang luar biasa bahkan sampai meratap, maka hal inilah yang Rasulullah SAW haramkan kepada kaum wanita saat ziaroh kubur, Allah menjadikan hari raya idul Fitri sebagai ajang kegembiraan dan kesenangan, maka tidak sepantasnya jika pada momen bahagia ini ada kesedihan yang terulang, akan tetapi jika tidak ada kesedihan ataupun ratapan pada saat ziyaroh kubur maka boleh untuk melaksanakan ziyaroh kubur pada saat hari raya.

3. Tausi`ah

Bentuk kesunnahan yang ketiga pada saat Idul Fitri adalah Tausi`ah yangberarti memberikan hidangan, yaitu memberikan hidangan kepada sanak keluarga, kerabat, tetangga, teman maupun guru  yang datang ke rumah kita dan bagi seseorang yang telah melaksanakan tausi`ah maka sungguh telah menunaikan sunnah Rasulullah SAW, walaupun tidak ada hadits mengenai makanan apa yang harus dihidangkan pada saat Idul Fitri, hal ini adalah suatu bentuk keumuman dan keringanan bagi umat Islam untuk menghidangkan makanan apa saja yang menjadi suatu ciri khas suatu negara atau kota untuk menghidangkannya.

4. Tahni`ah

Arti dari Tahni`ah adalah mengucapkan selamat, yaitu mengucapkan selamat dengan mendoakan kepada sesama muslim akan hadirnya Idul Fitri, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Jabir Bin Nafir RA:

أصحاب رسول الله  صلى الله عليه وسلم  إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض : تقبَّل الله منا ومنك (رواه البخاري)

Artinya: Para sahabat Rasulullah SAW ketika saling bertemu pada hari raya mereka saling mengucapkan تقبَّل الله منا ومنك (semoga Allah menerima amal kita dan kamu) (HR: Bukhori)

Boleh saling mengucapkan antar sesama muslim dengan menggunakan bentuk jamak dari lafadz tersebut untuk digunakan oleh orang banyak, untuk itu boleh menggunakan lafadz تقبَّل الله منا  ومنكم.

Kesimpulan yang dapat kita tarik dari penjelasan diatas adalah amaliyah-amaliyah umat Islam Indonesia telah benar dan sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW dari tazawur atau yang biasa kita sebut nglencer (Jawa), ziyaroh atau nyekar (Jawa) atau nylaseh (madura), memberikan hidangan kepada tamu, keluarga, kerabat, tetangga, teman dan guru serta mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, jadi bagi umat islam yang ada di Indonesia bertanya-tanya dari mana adat istiadat ini ada maka jawabannya adalah Rasulullah SAW dan para sahabat sendiri yang telah mencontohkan dan menganjurkan serta telah mensyariatkannya kepada kita semua dan masih banyak lagi kesunnahan-kesunnahan yang dianjurkan untuk kita melakukannya pada saat hari raya yang dapat kita temukan dalam kitab kitab hadits, ulama terdahulu maupun sekarang.

 

والله أعلم بالصواب

Diposting Oleh : Kaka
Sumber Gambar : http://kitabaca.id
Sumber Tulisan : http://kitabaca.id