Komunikasi Bencana Semeru: Peran Perempuan dari Sirene ke Dapur

Ketika sirene berbunyi di lereng Semeru, informasi belum otomatis menjadi keselamatan. Komunikasi bencana Semeru—melalui pemerintah, WhatsApp, pengeras suara masjid, dan tetangga—harus diterima, dipercaya, lalu diterjemahkan menjadi tindakan. Dalam rantai yang kerap luput dari perhatian ini, perempuan memegang peran penting.

Konteks risikonya tetap nyata pada 2023. Badan Geologi mencatat rata-rata 52 kejadian erupsi Gunung Semeru per hari pada 11–23 September 2023; status aktivitasnya saat itu masih Level III (Siaga) sejak 16 Desember 2021 (Badan Geologi, 2023). Di banyak keluarga, perempuan mengubah informasi kebencanaan menjadi keputusan sehari-hari: menyiapkan makanan, dokumen, obat, pakaian anak, serta menghubungi kerabat. Mereka mungkin tidak berada di pos pemantauan, tetapi melalui merekalah pesan publik menjadi kesiapsiagaan keluarga. Peran ini sejalan dengan prinsip pengurangan risiko bencana yang menuntut perspektif gender, usia, disabilitas, dan budaya dalam perencanaan maupun praktik (United Nations Office for Disaster Risk Reduction [UNDRR], 2015).

Tantangannya bertambah karena masyarakat sekitar Semeru beragam. Warga Jawa, Madura, Tengger, komunitas pesantren, kelompok keagamaan, dan pendatang tidak selalu menerima istilah teknis dengan makna yang sama. Ungkapan seperti awan panas guguran, radius bahaya, atau potensi lahar baru berarti jika dihubungkan dengan dusun, sungai, kebun, jalan, dan rumah yang dikenal warga. Pertanyaan mereka sederhana tetapi menentukan: apakah anak harus dijemput, ke mana lansia dibawa, dan jalan mana yang aman?

Di sinilah perempuan sering menjadi penerjemah sunyi: menerjemahkan bahasa institusi menjadi bahasa keluarga, bahasa risiko menjadi tindakan, dan informasi umum menjadi keputusan yang sesuai dengan keadaan rumah tangga. Imbauan meningkatkan kewaspadaan dapat berubah menjadi tindakan konkret: mengisi bahan bakar, mengisi daya telepon, menyimpan surat penting, menyiapkan tas anak, serta mengingatkan tetangga untuk memeriksa lansia yang tinggal sendiri.

Ukuran keberhasilan komunikasi bencana tidak boleh berhenti pada kecepatan penyebaran pesan atau jumlah grup yang menerima pengumuman. Pesan yang terkirim belum tentu dipahami; pesan yang dipahami belum tentu dipercaya; dan pesan yang dipercaya belum tentu mudah dilaksanakan. Pengaruh sosial, kepercayaan, dan relasi dekat ikut menentukan apakah seseorang bertindak saat menerima peringatan (Cialdini & Goldstein, 2004).

Kesulitan tersebut nyata bagi keluarga dengan keterbatasan kendaraan, akses internet, kesehatan, atau beban perawatan. Bagi seorang ibu yang membawa balita, merawat orang tua sakit, mengamankan dokumen, dan memastikan makanan, keputusan mengungsi bukan sekadar mengikuti instruksi. Karena itu, perempuan tidak tepat dipandang hanya sebagai kelompok rentan atau penerima bantuan. Kebijakan pengarusutamaan gender BNPB menempatkan gender sebagai dimensi terpadu dalam penanggulangan bencana (Badan Nasional Penanggulangan Bencana [BNPB], 2014).

Ketangguhan masyarakat juga bekerja melalui jejaring sehari-hari: pengajian, kader kesehatan, pedagang, wali murid, komunitas keagamaan, dan hubungan kekerabatan. Seorang lansia yang tidak membaca WhatsApp dapat memahami pesan melalui anak atau tetangganya. Anak-anak yang takut pada sirene dapat lebih tenang setelah mendapat penjelasan dari ibunya. Komunikasi bencana, dengan demikian, berlangsung melalui hubungan kepercayaan, bukan hanya perangkat komunikasi.

Pemerintah daerah dan desa perlu memperlakukan perempuan sebagai bagian utama dari sistem komunikasi bencana. Pesan harus disusun berlapis: informasi teknis untuk petugas dan versi sederhana yang menjawab apa yang terjadi, wilayah terancam, tindakan yang perlu dilakukan, serta tujuan evakuasi. Pesan suara dalam bahasa yang akrab juga dapat melengkapi bahasa Indonesia resmi.

Desa perlu memetakan dan melatih kader PKK, posyandu, guru, pengasuh pesantren, pedagang, tokoh agama perempuan, serta pengurus pengajian sebagai penghubung komunikasi berbasis keluarga. Simulasi pun perlu memasuki ruang domestik: keluarga harus membagi tugas untuk dokumen, anak, lansia, kerabat, dan kondisi ketika anggota keluarga terpisah. Pendekatan ini sejalan dengan agenda pengurangan risiko yang responsif gender dan memperkuat kepemimpinan perempuan (UNDRR, 2023).

Pengakuan peran perempuan bukan berarti membebankan keselamatan kepada mereka. Kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama laki-laki, perempuan, pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan komunitas lokal. Sirene dapat memberi peringatan, tetapi tidak dapat menyiapkan tas anak atau mengetuk pintu tetangga yang sendirian. Pekerjaan itu berlangsung di rumah, dapur, warung, dan tempat ibadah. Karena itu, komunikasi bencana di lereng Semeru harus mengakui perempuan sebagai penghubung antara sirene dan keselamatan keluarga.

Daftar Rujukan

Badan Geologi. (2023). Press release aktivitas vulkanik Gunung Api Semeru. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2014). Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 13 Tahun 2014 tentang pengarusutamaan gender di bidang penanggulangan bencana.

Cialdini, R. B., & Goldstein, N. J. (2004). Social influence: Compliance and conformity. Annual Review of Psychology, 55, 591–621. https://doi.org/10.1146/annurev.psych.55.090902.142015

United Nations Office for Disaster Risk Reduction. (2015). Sendai framework for disaster risk reduction 2015–2030.

United Nations Office for Disaster Risk Reduction. (2023). A review of gender and the Sendai Framework.

About Ahmad Hafidz Lubis

Check Also

Konstruksi Kepatuhan dalam Kultur Pesantren

Kepatuhan merupakan salah satu nilai yang lekat dengan kehidupan pesantren. Santri dibiasakan menaati peraturan, menghormati …