Mohammad Khosim, S. Pd.I., MA. Kaprodi Pendidikan Agama islam Fakultas Tarbiyah Univesitas Islam Syarifuddin

Tugas Makin Sempurna, Nalar Makin Tumpul

Kecerdasan artifisial generatif telah mengubah cara peserta didik menyelesaikan tugas. Esai, rangkuman, presentasi, hingga jawaban persoalan keagamaan kini dapat dibuat dalam hitungan detik. Di madrasah, pesantren, sekolah Islam, dan perguruan tinggi keagamaan, tugas tampak semakin rapi, sistematis, dan kaya istilah akademik. Namun, kesempurnaan produk tidak selalu menunjukkan kedalaman pemahaman. Peserta didik dapat menyerahkan makalah yang baik, tetapi kesulitan menjelaskan kembali gagasan utama, sumber rujukan, atau alasan di balik kesimpulannya.

Di sinilah muncul paradoks pendidikan: kualitas tampilan tugas meningkat, sementara kegiatan membaca, mempertanyakan, menimbang bukti, menghubungkan gagasan, dan menyimpulkan secara mandiri berisiko melemah. Masalahnya bukan AI sebagai teknologi, melainkan cara penggunaannya. AI dapat membantu guru menyusun bahan ajar, memberi umpan balik, menyederhanakan konsep, dan memperluas akses pengetahuan. Namun, apabila seluruh proses berpikir diserahkan kepada mesin, AI berubah dari alat bantu menjadi pengganti nalar.

Kesempurnaan Semu dan Terputusnya Proses Berpikir

Penggunaan AI berlebihan dapat mendorong cognitive offloading, yakni pengalihan pekerjaan mental kepada perangkat eksternal. Dalam batas wajar, hal ini membantu efisiensi. Akan tetapi, ketika peserta didik menyerahkan perumusan masalah, pencarian hubungan antargagasan, penyusunan argumen, dan penarikan kesimpulan kepada AI, kemampuan berpikir tingkat tinggi tidak sempat dilatih. Padahal, kebingungan, kesalahan, revisi, dan perdebatan merupakan bagian penting dari pertumbuhan intelektual. Kelancaran bahasa AI juga tidak boleh disamakan dengan ketepatan informasi atau validitas pengetahuan.

Dalam pendidikan Islam, persoalan ini lebih dari sekadar plagiarisme. Ilmu bukan hanya kumpulan informasi, melainkan pemahaman yang berkaitan dengan adab, penghayatan, pengamalan, dan tanggung jawab. Tugas yang dihasilkan AI lalu diakui sebagai karya pribadi menciptakan jarak antara penampilan akademik dan kemampuan nyata. Karena itu, krisis utama pada era AI bukan hanya krisis kejujuran teks, melainkan krisis keaslian belajar: apakah peserta didik sungguh mengalami proses intelektual dan moral ketika belajar?

Adab Nalar Karya sebagai Kerangka Penggunaan AI

Lembaga pendidikan Islam tidak perlu merespons dengan pelarangan total. Pendekatan yang lebih tepat ialah membangun tata kelola penggunaan AI melalui model Adab-Nalar-Karya. Pertama, adab penggunaan AI: lembaga perlu menetapkan aturan mengenai bantuan yang diperbolehkan, kewajiban menyatakan penggunaan AI, verifikasi sumber, perlindungan data, dan larangan mengklaim keluaran mesin sebagai karya mandiri. Kedua, penguatan nalar sebelum teknologi: peserta didik perlu menyusun peta konsep, rumusan masalah, catatan bacaan, atau argumen awal secara mandiri sebelum meminta bantuan AI. Ketiga, pertanggungjawaban karya: tugas penting perlu disertai presentasi, wawancara singkat, jurnal proses, atau refleksi individu.

Guru dan dosen juga perlu mengubah desain asesmen. Tugas yang hanya meminta definisi atau rangkuman mudah digantikan AI. Sebaliknya, observasi lapangan, wawancara tokoh lokal, analisis persoalan sosial-keagamaan, pembacaan kitab, debat ilmiah, dan presentasi lisan menuntut keterlibatan pribadi. Tradisi sorogan, musyawarah, bahtsul masail, dan muhafazah menjadi semakin relevan karena menuntut peserta didik hadir, menjelaskan, menerima koreksi, serta mempertanggungjawabkan pandangannya.

Asesmen Autentik dan Literasi Verifikasi

Penggunaan AI yang bertanggung jawab juga menuntut literasi verifikasi. Peserta didik perlu membandingkan jawaban AI dengan sumber primer, kitab, artikel ilmiah, dan penjelasan guru yang kredibel. Mereka harus belajar mengenali bias, kesalahan fakta, kutipan fiktif, serta penyederhanaan konteks yang mungkin muncul dalam keluaran mesin. Dalam persoalan keagamaan, kehati-hatian ini penting karena jawaban yang terdengar meyakinkan belum tentu sesuai dengan metodologi, pendapat ulama, atau kondisi sosial yang sedang dibahas. Teknologi perlu ditempatkan dalam bimbingan ilmu, bukan dijadikan otoritas tunggal.

Keberhasilan AI dalam pendidikan tidak diukur dari seberapa cepat tugas selesai atau seberapa indah hasilnya. Ukurannya ialah apakah teknologi membuat peserta didik lebih kritis, jujur, mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab. AI seharusnya memperluas kemampuan manusia untuk belajar, bukan mengosongkan proses manusiawi dalam belajar. Dengan demikian, kecakapan digital harus selalu tumbuh bersama kedewasaan intelektual.

 

Referensi

Cotton, D. R. E., Cotton, P. A., & Shipway, J. R. (2024). Chatting and cheating: Ensuring academic integrity in the era of ChatGPT. Innovations in Education and Teaching International, 61(2), 228-239. https://doi.org/10.1080/14703297.2023.2190148

Kasneci, E., Sessler, K., Küchemann, S., et al. (2023). ChatGPT for good? On opportunities and challenges of large language models for education. Learning and Individual Differences, 103, 102274. https://doi.org/10.1016/j.lindif.2023.102274

Miao, F., Shiohira, K., & Lao, N. (2024). AI competency framework for students. UNESCO. https://www.unesco.org/en/articles/ai-competency-framework-students

Miao, F., Cukurova, M., & UNESCO. (2024). AI competency framework for teachers. UNESCO. https://www.unesco.org/en/articles/ai-competency-framework-teachers

Miao, F., & Holmes, W. (2023). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO. https://www.unesco.org/en/articles/guidance-generative-ai-education-and-research

Tlili, A., Shehata, B., Adarkwah, M. A., et al. (2023). What if the devil is my guardian angel: ChatGPT as a case study of using chatbots in education. Smart Learning Environments, 10, Article 15. https://doi.org/10.1186/s40561-023-00237-x

Check Also

Konstruksi Kepatuhan dalam Kultur Pesantren

Kepatuhan merupakan salah satu nilai yang lekat dengan kehidupan pesantren. Santri dibiasakan menaati peraturan, menghormati …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *