Dr. Zainul Arifin, MM.

Dakwah Generasi Algoritma, Dari Konten Viral Menuju Transformasi Moral

Dakwah kini berhadapan dengan generasi dalam kepungan layar, algoritma, dan kecerdasan artifisial. Ribuan ceramah, ayat, hadis, dan nasihat dapat diakses melalui telepon pintar. Namun, kelimpahan konten tidak otomatis melahirkan pemahaman mendalam dan kematangan moral. Akses agama makin terbuka, sementara verifikasi, pendalaman, dan pengamalannya dapat makin rapuh. Generasi muda tidak kekurangan ceramah; mereka memerlukan arah, pendampingan, keteladanan, dan ruang untuk mengaktualkan nilai agama dalam kehidupan nyata.

Perubahan dakwah harus berangkat dari perubahan karakter masyarakat. APJII mencatat pengguna internet Indonesia pada 2024 sebanyak 221,56 juta orang dengan penetrasi 79,5 persen. BPS juga mencatat 72,78 persen penduduk usia lima tahun ke atas mengakses internet dalam tiga bulan terakhir pada 2024; angkanya 79,13 persen di perkotaan dan 63,71 persen di perdesaan. Ruang digital karena itu menjadi ruang sosial utama. Laporan Digital 2026: Indonesia memperkirakan 180 juta identitas pengguna aktif media sosial pada Oktober 2025, meski jumlah itu tidak selalu mewakili individu unik. Pemuda usia 16-30 tahun, 64,22 juta jiwa, merupakan sasaran dakwah sekaligus calon produsen pesan dan penggerak perubahan sosial.

Dakwah harus hadir di ruang digital, tetapi tidak cukup berhenti pada produksi konten. Ia harus mengubah perhatian digital menjadi kesadaran moral dan tindakan sosial. Dahulu, belajar agama berlangsung melalui guru, kiai, ustaz, pesantren, madrasah, atau majelis taklim dengan sanad keilmuan yang jelas. Kini, generasi muda mengenal agama melalui halaman rekomendasi. Algoritma tidak dirancang untuk menentukan kebenaran; ia membaca perhatian dan interaksi. Karena itu, konten provokatif, emosional, atau kontroversial sering menjangkau lebih luas daripada penjelasan mendalam dan berimbang.

Akibatnya, otoritas keagamaan dapat bergeser dari kompetensi ke popularitas. Persoalan fikih dipadatkan menjadi video singkat; perbedaan pendapat disederhanakan sebagai pertentangan benar dan salah; potongan ceramah dilepaskan dari konteks untuk membangun kemarahan. Kutipan pendek tidak selalu membentuk pemahaman utuh. Dakwah harus menjadi proses pendidikan: membantu generasi muda memahami cara kesimpulan agama dibangun, siapa yang berwenang menjelaskannya, dan mengapa perbedaan pendapat dapat terjadi.

Ketika Algoritma Menjadi “Guru Agama”

Tantangan bertambah ketika AI generatif mampu membuat teks, suara, gambar, dan video yang sulit dibedakan dari konten autentik. Kemkomdigi pada September 2025 menyebut konten deepfake meningkat 550 persen dalam lima tahun berdasarkan data Sensity AI. Di ruang keagamaan, AI dapat menghasilkan video tokoh agama palsu, hadis palsu, terjemahan ayat yang tidak tepat, fatwa tanpa dasar, atau jawaban meyakinkan tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tabayun harus menjadi kompetensi digital: memeriksa sumber asli, membandingkan informasi, mengenali konteks, mengecek keaslian visual, dan tidak membagikan konten semata karena sesuai keyakinan pribadi.

Masalah dakwah digital juga bukan hanya soal konten menarik. PPATK pernah mengungkap sekitar 440.000 pemain judi daring berusia 10-20 tahun, termasuk sekitar 80.000 anak di bawah sepuluh tahun. Laporan Tahunan PPATK 2024 mencatat transaksi judi daring Rp359,81 triliun; hingga Oktober 2025 perputaran uangnya masih sekitar Rp155 triliun. UNICEF mencatat 42 persen anak pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman daring dan 50,3 persen pernah melihat gambar seksual di media sosial. Studi Disrupting Harm juga menemukan setidaknya dua persen anak usia 12-17 tahun pernah mengalami pemaksaan, pemerasan, atau eksploitasi seksual daring. Dakwah perlu hadir pada masalah konkret: kecanduan gawai, judi daring, pornografi, pinjaman daring, perundungan, kesehatan mental, budaya pamer, dan kecemasan masa depan.

Dakwah generasi algoritma tidak boleh terjebak perlombaan popularitas. Kreativitas tetap perlu berpijak pada kompetensi keilmuan, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Generasi muda perlu dilibatkan sebagai kreator konten, relawan sosial, pengelola komunitas, peneliti audiens, dan pengembang inovasi. Kesalehan tidak hanya tampak pada kutipan yang dibagikan, tetapi juga pada cara berkomentar, menjaga privasi, memeriksa informasi, menghormati perbedaan, menolak perundungan, dan membantu orang lain. Masa depan dakwah bergantung pada kemampuan menghadirkan Islam sebagai sumber makna, ketenangan, kecerdasan, dan penyelesaian masalah, dengan pendekatan yang peka terhadap latar pesantren, sekolah umum, perkotaan, dan perdesaan.

About Zainul Arifin

Check Also

refleksi

Refleksi Mahasiswa

Bermula dari ingatan yang sedikit terbesit, dahulu di kala kecil masih berumur kanak-kanak. Jika ada …