AI telah masuk ke ruang keagamaan. Dalam hitungan detik, pengguna dapat meminta teks Hadith, terjemahan, penilaian kesahihan, bahkan jawaban hukum. Kemudahan ini berguna, tetapi menggeser pertanyaan pokok: ketika AI menjelaskan Hadith, siapa yang memegang otoritas – ulama, teks, atau algoritma?
Dari Sanad ke Algoritma
Tradisi Hadith tidak memperlakukan informasi sebagai pengetahuan yang berdiri sendiri. Sanad, kritik perawi, kritik matan, perbandingan riwayat, konteks, dan syarah membentuk prosedur untuk menilai apakah suatu riwayat layak dijadikan pegangan. Intinya sederhana: sumber, jalur transmisi, dan cara memahami teks harus dapat diuji (Brown, 2009; Azami, 1977).
AI tidak memiliki sanad dalam pengertian itu. Model bahasa menghasilkan jawaban dari pola data, bukan dari penalaran ilmiah yang dapat dimintai pertanggungjawaban. Jawaban yang fasih tidak membuktikan bahwa sumbernya sahih, kutipannya akurat, atau kesimpulannya tepat. Karena itu, pertanyaan klasik “dari siapa kita mengambil agama?” kini perlu diperluas: dari data, sistem, dan mekanisme apa jawaban keagamaan itu dihasilkan?
Risiko Otoritas Sintetis
AI generatif bukan sekadar mesin pencari. Ia memilih penjelasan, menyatukan argumen, dan menyajikan kesimpulan. Saat AI menyebut teks Arab, kitab, nomor Hadith, dan hukum dalam satu jawaban, pengguna mudah menganggapnya otoritatif. Padahal, model bahasa dapat menghasilkan rujukan yang keliru atau tidak ada sambil tetap terdengar meyakinkan. Risiko ini bukan hanya misinformasi, melainkan otoritas keagamaan sintetis: bentuk otoritas yang tampak ilmiah, tetapi tidak selalu memiliki rantai pembuktian yang dapat diperiksa (Bender et al., 2021).
Otoritas Hadith tidak seharusnya berpindah dari kompetensi ke aksesibilitas. Yang paling cepat muncul bukan otomatis yang paling benar. Dalam studi Hadith, kecepatan pencarian tidak dapat menggantikan takhrij, penilaian sanad, pembacaan variasi riwayat, dan pemahaman para pensyarah.
Algoritma Tidak Netral
Jawaban AI dibentuk oleh data pelatihan, desain sistem, penyaringan, dan keputusan perusahaan. Akibatnya, tradisi yang paling terdigitalisasi atau paling dominan di internet lebih mungkin tampil daripada manuskrip, karya lokal, dan praktik transmisi pesantren yang kurang terdokumentasi secara digital. AI mungkin tidak merepresentasikan Islam secara utuh, melainkan Islam yang paling mudah ditemukan dalam datanya. Ketimpangan visibilitas ini perlu diperlakukan sebagai persoalan pengetahuan, bukan sekadar persoalan teknis (UNESCO, 2021).
AI sebagai Khadim al Ilm
Menolak AI sepenuhnya tidak realistis; menerimanya tanpa kritik juga berbahaya. Posisi yang lebih tepat adalah menempatkan AI sebagai khadim al-ilm, pelayan ilmu, bukan pemegang otoritas ilmu. AI dapat membantu pencarian awal, pengelompokan literatur, penerjemahan, dan pemetaan tema. Namun, validitas Hadith serta penarikan maknanya tetap harus diuji oleh orang yang menguasai metodologi, konteks, dan tanggung jawab ilmiah.
Literasi AI di pesantren dan perguruan tinggi Islam perlu berangkat dari disiplin verifikasi. Ketika AI menampilkan Hadith, pengguna perlu memeriksa kitab dan bab sumbernya, redaksi Arabnya, status sanadnya, kemungkinan perbedaan riwayat, serta kesesuaian penjelasannya dengan syarah dan metodologi Hadith. Dengan cara ini, AI menjadi pintu masuk tabayyun, bukan jalan pintas untuk menggantikannya.
Menuju Sanad Digital
Yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak kitab dalam basis data, melainkan sanad digital: prinsip bahwa setiap klaim keagamaan yang dihasilkan sistem harus dapat ditelusuri ke sumber primer yang jelas. Untuk Hadith, idealnya pengguna dapat melihat kitab, bab, nomor Hadith, variasi riwayat, dan penilaian ulama yang relevan. Prinsip ini sejalan dengan tuntutan transparansi, keterlacakan, dan pengawasan manusia dalam tata kelola AI (Floridi et al., 2018; UNESCO, 2021).
Ilmu Hadith, karena itu, bukan hanya objek yang dapat dibantu AI. Tradisi ini menawarkan kritik etis bagi AI: siapa yang menyampaikan, dari mana informasi diperoleh, apakah jalurnya dapat diuji, dan apakah klaimnya bertentangan dengan bukti yang lebih kuat? Algoritma menawarkan skala dan kecepatan; sanad menawarkan verifikasi dan pertanggungjawaban. Teknologi akan berguna bagi pengetahuan agama hanya jika yang pertama tunduk pada yang kedua.
Daftar Referensi
Azami, M. M. (1977). Studies in early hadith literature: With a critical edition of some early texts. American Trust Publications.
Bender, E. M., Gebru, T., McMillan-Major, A., & Shmitchell, M. (2021). On the dangers of stochastic parrots: Can language models be too big? In Proceedings of the 2021 ACM Conference on Fairness, Accountability, and Transparency (pp. 610-623). https://doi.org/10.1145/3442188.3445922
Brown, J. A. C. (2009). Hadith: Muhammad’s legacy in the medieval and modern world. Oneworld Publications.
Floridi, L., Cowls, J., Beltrametti, M., Chatila, R., Chazerand, P., Dignum, V., Luetge, C., Madelin, R., Pagallo, U., Rossi, F., Schafer, B., Valcke, P., & Vayena, E. (2018). AI4People – An ethical framework for a good AI society: Opportunities, risks, principles, and recommendations. Minds and Machines, 28, 689-707. https://doi.org/10.1007/s11023-018-9482-5
UNESCO. (2021). Recommendation on the ethics of artificial intelligence. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000381137
